Tampilkan postingan dengan label DISFUNGSI SEKSUAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DISFUNGSI SEKSUAL. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Juli 2008

Sulit Greng Akibat Kurang Hormon

INSYA ALLAH DENGAN HABBAT`S X PLUS hormon anda meningkat dan SEGALA KELUHAN SEKSUAL BISA DIATASI. AMIN.
HABBATUSSAUDA OBAT SEGALA MACAM PENYAKIT KECUALI KEMATIAN (HR. BUKHARI MUSLIM) MADU OBAT YANG MENYEMBUHKAN BAGI MANUSIA (QS: AN-NAHL: 69) PEMESANAN DAN KONSULTASI HUBUNGI BIN MUHSIN DI HAP: 085227044550 / 021-91913103 email / YM : binmuhsin_group@yahoo.co.id

===
sumber:
kompas.com

===

SEPERTI halnya wanita ketika memasuki masa menopause, pria juga dapat kehilangan gairah seksualnya akibat berbagai penyebab. Salah satu di antaranya adalah akibat rendahnya atau kurang hormon testosteron dalam darah sehingga mampu menurunkan fungsi seksual. Dalam istilah medis, rendahnya kadar testosteron ini disebut Testosteron Deficiency Syndrome (TDS).

Akibat kekurangan hormon ini, pria bisa menjadi sulit mengalami ereksi, bahkan ereksi normal yang biasa terjadi di pagi hari pun tidak terjadi. Tak cuma itu, karena sangat penting bagi tubuh, maka terganggunya kadar hormon akan membuat sel-sel di seluruh tubuh terganggu.

Jika sel otak yang terkena, maka penderita bisa cepat lupa, sulit berkonsentrasi, dan susah berpikir jernih. Demikian juga jika sel-sel tulang terganggu, akan menyebabkan kekeroposan pada tulang, atau osteoporosis. Kulit menjadi kasar karena sel-selnya terganggu, dan lain-lain.

Normalnya, kadar testosteron dalam darah adalah 12 nmol/l hingga 40 nmol/l. Namun ada beberapa pria yang kadar hormon lelakinya kurang alias tidak berkembang. Mengapa hal itu bisa terjadi? Ada beberapa faktor yang memengaruhi.


1. Faktor bawaan. Sejak masa kandungan, proses pembentukan hormonnya memang sudah terganggu .

2. Penyakit. Diabetes Mellitus salah satunya. Ketidakmampuan tubuh memproses gula, membuat gula yang menumpuk itu merusak pembuluh darah dan saraf. Pembentukan hormon testosteron pun terganggu.

3. Gaya hidup tidak sehat. Itulah mengapa TDS berisiko dialami pria di kota-kota besar. Merokok, minum minuman beralkohol atau narkoba, kurang berolahraga, dan lemahnya manajemen stres, membuat banyak pria kehilangan "keperkasaannya" di saat muda.

4. Usia atau andropause. Inilah penyebab terbanyak. Umumnya pria berumur 40 tahun ke atas mengalami penurunan kadar hormon secara bertahap. Seperti dikutip dari Massachussets Male Aging Study (1991) dan Vermeulen (1992), di usia 40, pria akan mengalami penurunan kadar testosteron dalam darah sekitar 1,2% per tahun.

Bahkan di usia 70, penurunan kadar testosteron pria bisa mencapai 70%. Meski begitu, selama menerapkan gaya hidup sehat, penurunan kadar testosteron alami ini tidak terlalu menghambat aktivitas seksual pria.

Barengi dengan Gaya Hidup Sehat

Untuk mengetahui, apakah disfungsi ereksi itu disebabkan TDS atau bukan, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan darah. Jika kadar testosteron dalam darah di bawah normal, maka disfungsi ereksi tersebut terjadi karena TDS.

Namun jangan terlalu khawatir karena TDS bisa diatasi dengan obat-obatan peningkat hormon. Bentuknya bermacam-macam, ada tablet, ada juga yang berbentuk injeksi. Dengan pengobatan yang teratur, diharapkan kadar testosteron di dalam tubuh bisa kembali kepada kisaran normal. Beberapa makanan juga diyakini bisa membantu meningkatkan kadar hormon testosteron, seperti tauge. Nah, bila pengobatan dilakukan dengan teratur, maka diharapkan kadar testosteron yang semula rendah meningkat menjadi normal. Normalnya kadar testosteron akan membuat pria kembali "perkasa".

Hal lain yang perlu diperhatikan para pria, tidak ada "obat kuat" yang mampu mengatasi disfungsi ereksi akibat TDS. Selain itu, jangan lupakan olahraga secara rutin dan teratur. Sediakan waktu yang cukup untuk berolahraga. Minimal dua kali seminggu. Lalu konsumsi makanan yang sehat dan bergizi. Hindari makanan yang banyak mengandung lemak dan kolesterol. Ingat pula: atasi stres. Hindari merokok dan alkohol. Terakhir, istirahat yang cukup. Semua itu bisa membuat kadar hormon lelaki tetap normal dan stabil. Cukup sederhana kan?

Ada Tapi Sedikit

Jika lelaki punya hormon testosteron yang membuat ciri-ciri kelaki-lakiannya muncul, seperti adanya jakun, kumis, jenggot, penis dan suara bas maka perempuan memiliki hormon estrogen. Hormon itulah yang membuat perempuan mengalami menstruasi, bersuara lembut, berkulit halus, memiliki payudara, dan lain-lain. Meski begitu, bukan berarti laki-laki tidak memiliki hormon estrogen. Ada, tapi kadarnya rendah. Begitu pun sebaliknya. Perempuan juga memiliki testosteron meski kadarnya sedikit.

Hormon Tak Berkembang

Kadar hormon lelaki umumnya akan meningkat pesat kala puber. Tak heran, jika di usia ini terjadi perubahan-perubahan, baik fisik maupun psikis. Tapi, ada beberapa pria yang kadar hormon lelakinya tidak meningkat/berkembang. Biasanya disebabkan faktor bawaan atau proses pembentukan hormon testosteronnya sudah terganggu sejak lahir. Akibatnya, organ lelaki yang bersangkutan tidak tumbuh dengan baik, seperti memiliki mikropenis (penis kecil) atau buah zakarnya dan testisnya tidak berkembang. Pertumbuhan-pertumbuhan sekunder dari "kelaki-lakiannya" juga terganggu, seperti tidak tumbuh jakun, tidak berkumis, tidak ada bulu di kaki dan dada. Suaranya pun bisa jadi lembut mirip perempuan.

Penulis : Saeful Imam


Senin, 16 Juni 2008

Penderita 'Diabetes Mellitus' Beresiko Alami Disfungsi Seksual

===
Kapanlagi.com - Kaum pria penderita Diabetes Mellitus type 2, terutama mereka yang kelebihan berat badan, seringkali memiliki testosterone (kadar hormone laki-laki) dengan tingkat yang rendah, sehingga membuat mereka mempunyai kecenderungan untuk mengalami disfungsi seksual, demikian hasil penelitian terkini mengungkapkan.

Penelitian tersebut yang melibatkan sebanyak 355 pria penderita diabetes type 2 diatas usia 30 tahun dan menemukan 17% diantaranya memiliki kadar testosteron yang rendah atau yang disebut 'hypogonadisme'. Sementara 25% diantaranya memiliki kadar testosteron yang berada di 'perbatasan'.

Obesitas merupakan 'penunjuk yang signifikan' akan rendahnya testosteron.

"Hasil penelitian ini telah memperlihatkan bahwa adanya prevalensi yang tinggi akan kondisi hypogonadisme pada pria penderita diabetes type 2," demikian pendapat yang disampaikan Dr Dheeraj Kapoor dari rumah sakit Barnsley dari yayasan NHS, yang bekerja sama dengan rekan-rekan ilmuwan dari Inggris, yang menuangkan hasil penelitian mereka dalam makalah yang dimuat dalam jurnal kedokteran 'Diabetes Care'.

Gejala utama akan rendahnya tingkat testosteron mengurangi atau bahkan menghilangkan daya kemampuan seksual, mengurangi kemampuan berereksi, kelelahan, menurunkan stamina fisik dan menyebabkan perobahan suasana hati (mood), demikian dikemukakan oleh tim Kapoor dalam jurnal edisi terkini tersebut.

Disfungsi ereksi adalah geala utama yang terjadi dan menimpa 70% pria penderita diabetes dengan testosteron yang rendah, diikuti dengan rendahnya minat atau gairah seksual sebanyak 63%.

Disfungsi ereksi adalah hal yang umum dialami oleh pria penderita diabetes, demikian tim Kapoor mengatakan. Sebagai tambahan dari kondisi testosteron berkadar rendah adalah disfungsi ereksi yang kemungkinan disebabkan oleh penyakit pada pembuluh darah, atau masalah dengan syaraf yang mengatur fungsi bagian dalam tubuh dan kondisi seperti itu dikenal dengan sebutan autonomic neurophaty.

Masalah yang dialami para pasien DM type 2 seringkali merupakan kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Para peneliti juga mencatat bahwa pria yang gagal merespons terhadap ovat-obatan sejenis Viagra umumnya memiliki testosterone dalam tingkat rendah.

Dalam dua penelitian sebelumnya, para pria yang testosteronnya pada tingkat rendah menjalani 'therapy testosterone' pengganti, sehingga mengubah mereka dari kelompok yang tak merespon Viagra menjadi kelompok merespon Viagra.

Therapy testosterone juga mengakibatkan keadaan perobahan ke arah perbaikan peningkatan respons terhadap insulin, pengontrolan gula darah, tingkat kolesterol yang jauh lebih baik, serta berkurangnya berat badan pada pria penderita DM type 2 yang memiliki kadar testosterone rendah.

Hasil penelitian ini menemukan sejumlah bukti bahwa pendeteksian kadar testosterone yang rendah pada penderita diabetes type 2 sangatlah penting tak hanya bagi kehidupan seksualnya tetapi terutama untuk kesehatan mereka. (*/bun)

Ukuran 'Mr. P' Pengaruhi Disfungsi Seksual?

KapanLagi.com - Penelitian yang dilakukan oleh para seksolog terhadap pria dewasa di Singapura, pada tahun 2000, menunjukkan ukuran panjang penis 'standar' rata-rata sepanjang sekitar 8 cm pada saat tidak ereksi dan bertambah menjadi sekitar 12 cm pada saat ereksi. Ukuran lingkar penis sekitar 8,5 cm pada saat tidak ereksi dan sekitar 11 cm pada saat ereksi.

Penelitian itu juga menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara ukuran penis pria dan etnik Cina, India, dan Melayu, baik pada saat tidak ereksi maupun saat ereksi. Penelitian ukuran penis terhadap etnik Kaukasia yang dilakukan oleh Welles dan kawan-kawan pada tahun 1996 menunjukkan ukuran panjang rata-rata penis 8,8 cm dalam keadaan tidak ereksi dan menjadi 12,9 cm pada saat ereksi. Ukuran lingkarnya 9,7 cm dalam keadaan tidak ereksi dan menjadi 12,3 cm pada saat ereksi.

Dari data di atas, tampak bahwa ukuran penis pada umumnya tidak terlalu jauh berbeda antar etnik. Data ini sekaligus membantah informasi yang salah, yang seakan-akan telah menjadi mitos bahwa etnik tertentu mempunyai ukuran penis yang luar biasa.

Apakah ukuran penis yang tidak sesuai harapan dapat mengakibatkan disfungsi ereksi?

Pada umumnya, perasaan yang tidak sesuai dengan harapan muncul karena membandingkan ukuran penisnya dengan penis orang lain, terutama dengan pemain film porno yang memang sengaja mengeksploitasi seks secara 'brutal' dan 'tak mendidik'. Padahal secara fisik, sebenarnya ukuran penis tidak menentukan bagi fungsi ereksi dan fungsi seksual pada umumnya, asal perkembangannya sudah mencapai tahap perkembangan yang normal.

Tetapi secara psikis, tidak sedikit pria yang merasa ukuran penisnya terlalu kecil atau tidak sesuai dengan harapan, kemudian mengalami hambatan psikis yang mengakibatkan disfungsi ereksi. Hambatan psikis yang timbul dapat berupa rasa rendah diri, rasa malu atau tidak percaya diri. Hambatan psikis terasa semakin kuat bila pasangannya memberikan reaksi yang semakin membenarkan anggapan, bahwa ukuran penisnya tidak sesuai dengan harapannya juga.

Oleh: Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp. And, Dokter Ahli Andrologi dan Seksologi (bun)

Gara-gara Stres, Banyak Pasangan Cina Berhenti Ngeseks

INSYA ALLAH DENGAN HABBAT`S X PLUS SEGALA KELUHAN SEKSUAL BISA DIATASI. AMIN.
HABBATUSSAUDA OBAT SEGALA MACAM PENYAKIT KECUALI KEMATIAN (HR. BUKHARI MUSLIM) MADU OBAT YANG MENYEMBUHKAN BAGI MANUSIA (QS: AN-NAHL: 69) PEMESANAN DAN KONSULTASI HUBUNGI BIN MUHSIN DI HAP: 085227044550 / 021-91913103 email / YM : binmuhsin_group@yahoo.co.id
===

Beijing
- Gara-gara stres, kehidupan seks banyak pasangan suami istri di Cina mengalami gangguan. Mulai dari kurangnya frekuensi hubungan seks hingga disfungsi seks yang menyerang para suami.

Parahnya lagi, kondisi ini tidak saja dialami pasangan yang telah lama menikah, namun juga yang masih tergolong pasangan baru. Wah... wah!

Keadaan stres di kota-kota Cina menyebabkan terganggunya kehidupan seks warganya. Bahkan menurut hasil survei terbaru di Cina, sebanyak 30 persen pasangan usia matang telah berhenti ngeseks sama sekali.

Survei yang diterbitkan koran China Daily itu menunjukkan, tekanan tiada henti dari keluarga dan pekerjaan merupakan penyebab utamanya terganggunya hubungan seks pasangan yang telah lama menikah, bahkan yang baru menikah.

"Dikarenakan beban berat memiliki keluarga dan karir pada orang-orang usia matang dewasa ini, disfungsi seksual menimpa lebih banyak pria, sehingga menghambat hubungan mereka dengan istri mereka," tulis koran tersebut mengutip Qiu Xiaolan dari Asosiasi Seksologi Cina.

Survei ini melibatkan hampir 33 ribu orang di 10 kota-kota di Cina. Sebanyak 30 persen pasangan usia matang atau di atas 30 tahun tidak lagi berhubungan intim dengan istri atau suami mereka. Ini diakibatkan masalah-masalah fisik dan psikologis terkait stres. Sebanyak seperempat dari pasangan di bawah usia 30 tahun mengalami masalah serupa.

Penelitian ini dilakukan oleh sebuah perusahaan farmasi AS bersama badan Pusat Komunikasi Penduduk Cina yang berbasis di Beijing. Dalam survei itu juga terlihat bahwa 45 persen pria yang menikah mengalami disfungsi ereksi.
( ita / nrl )

UJIAN PAKET C, IJAZAH SMA, KEJAR PAKET C, HUBUNGI 085227044550

HABBATUSSAUDA EXTRAFIT 369